Beranda » Minum Obat, Jadi Manusia Ikan

Minum Obat, Jadi Manusia Ikan

Malang nian nasib Agus Salim, 27, pemuda lereng Gunung Wilis, Dusun Surowangsan, Desa Keniten, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Di usianya yang seharusnya mulai berpikir mencari pasangan hidup, dia hanya bisa tergeletak dengan sekujur tubuh dipenuhi sisik layaknya manusia ikan.

Pemuda yang lahir 10 September 1982 ini tergeletak di Ruang Isolasi Kemuning RSUD Pare, Kabupaten Kediri. Pandangan matanya mengarah pada tangannya yang penuh sisik. Ia kerap merintih merasa kepanasan di sekujur tubuhnya. Mulai kepala sampai ujung kaki, dipenuhi sisik.

Tidak hanya kulit telapak kaki yang terus mengelupas dan mengeras. Tapi kulit kepala juga mengelupas dan bersisik keras. “Penyakit sekarang aneh-aneh. Dulu kalau panas atau gatal cukup dipupuri (dibedaki) kunir sudah sembuh. Anak saya ini sudah berkali-kali di bawa ke mantri kesehatan tapi belum sembuh,” ucap Sami, 60, ibu kandung Agus, Sabtu (6/3/2010).

Sisik pada tubuh Agus tumbuh dan mengeras kemudian lepas dengan sendirinya. Namun sesaat kemudian, sisik baru muncul lagi. “Rasanya gatal dan panas. Apalagi kalau bergerak, sekujur tubuh terasa panas,” kata Agus.

Agus dibesarkan di tengah keluarga petani lereng Gunung Wilis. Bapak ibunya, Marni, 65, dan Sami, 60, harus membesarkan tiga anak lainnya. Kedua orangtua ini tak pernah mengenyam pendidikan. Agus pun hanya tamatan SMP.

Sejak kecil, Agus rajin membantu orangtuanya di sawah. Tidak hanya membantu mencarikan pakan ternak, tapi juga mencangkul. Setelah besar, dia berusaha mencari uang di Kota Kediri. Karena hanya tamat SMP, ia pasrah hanya menjadi kuli bangunan. Dengan upah Rp 30.000 sehari, dia berusaha terus mengumpulkannya.

Namun sekitar lima bulan lalu, Agus mengeluh tubuhnya adem panas. Dia memutuskan istirahat di kampungnya. Agus lalu mengonsumsi obat yang dijual bebas di warung kampungnya. Biasanya, warga lereng Wilis tak terlalu cermat dengan kemungkinan kedaluwarsanya obat.

Obat diminum, namun sakitnya tak juga reda. Karena merasa kepanasan, Agus kemudian menambahnya dengan minuman penyegar tenggorokan. Namun setelah itu malah timbul bintik gatal di kedua pipinya. Ia kemudian periksa ke mantri kesehatan dan diberi obat.

“Saya pikir hanya keringet buntet (gatal karena keringat). Ini setelah saya bawa ke mantri kesehatan,” lanjut Agus. Seperti warga desa lainnya, setiap kali ada gangguan kesehatan, warga selalu menjadikan mantri kesehatan sebagai pilihan utama. Cukup dengan Rp 25.000 sudah termasuk pemeriksaan dan obat.

Agus mengaku saat itu diberi obat untuk menyembuhkan gatal-gatal. Akhirnya, Agus pulang membawa enam lembar obat. Masing-masing lembar berisi 12 pil. “Saya diminta minum sehari tiga kali. Sakali minum tiga pil,” kata Agus.

Beberapa hari setelah pil nyaris habis, justru tubuhnya semakin gatal-gatal. Keluarga pun memutuskan kembali memeriksakan Agus ke mantri tersebut. “Saya kemudian disuntik oleh Pak Mantri,” kata Agus. Bukan mereda, malah sekujur tubuhnya terasa gatal dan kulit mengelupas. Karena tidak punya uang, keluarga tidak membawanya ke rumah sakit. Apalagi Agus tak masuk Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), meski tergolong keluarga tidak mampu.

“Saya pikir kalau keluarga tidak mampu, berobat di rumah sakit pasti gratis. Ternyata tidak, karena tidak punya kartu Askeskin. Anak saya sempat sekitar 10 hari dirawat di Gambiran (RSUD Gambiran Kota Kediri),” kata Sami.

Tak Kuat Biaya

Karena tidak mendapatkan fasilitas Jamkesmas, maka selama 10 hari dirawat di RSUD Gambiran itu keluarga Agus harus menjual apa saja yang menjadi milik keluarga ini untuk mebiayai pengobatan. Namun saat tidak ada lagi yang bisa dijual, maka Agus dibawa pulang.

Setelah itu, menurut keluarga, Agus hanya dirawat di rumahnya, sambil menunggu pengurusan Jamkesmas di Kabupaten Kediri. Oleh perangkat dan tokoh masyarakat desa, keluarga ini disarankan mengurus Jamkesda (Jamkesmas yang ditangani dengan dana APBD). Setelah beres, Agus pun diboyong ke RSUD Pare. Sekitar akhir Februari, Agus mulai dirawat di RSUD Pare.

“Kami sudah sangat bersyukur bisa dirawat gratis di sini. Sekarang hanya memikirkan bagaimana orang-orang di rumah bisa makan. Harus ada orang yang menunggu di rumah sakit, tapi yang bekerja di ladang siapa,” tambah Sami.

Diperoleh keterangan dari RSUD Pare, bahwa Agus mulai masuk rumah sakit sekitar seminggu lalu. Menurut Humas RSUD Pare, Abdul Roziq, berdasarkan pemeriksaan dokter spesialis kulit, Agus dinyatakan mengidap psariasis erythoderma, yakni kelainan pada kulit tubuhnya. Yakni penyakit yang diakibatkan oleh pertumbuhan jaringan sel kulit yang terlalu cepat. Akibatnya, jaringan kulit luar yang cepat keluar juga mengakibatkan terlalu mudah mati. Setelah itu langsung disusul jaringan kulit kembali dan kemudian mengelupas. Begitu terus.

“Biasanya kulit baru dari pertumbuhan jaringan sel ini belum bisa beradaptasi dengan suhu lingkungan. Akibatnya, kulit tampak mengering dan mengelupas,” tambahnya. “Tapi ini tidak terkait dengan malapraktik,” jelas Roziq.

Awalnya RSUD Pare menengarai penyakit Stevens Johnson pada diri Agus, yakni kondisi kulit akibat reaksi buruk dari obat. Namun setelah diteliti, ternyata bukan. Dijelaskan Roziq, penyakit yang dialami Agus tergolong sangat langka.

Roziq menduga, penyakit sisik pada Agus akibat ketahanan tubuh yang lemah. Karena kekebalan tubuhnya rendah, semua penyakit menjadi berpotensi masuk ke tubuh. “Kita upayakan agar kulitnya kembali tumbuh normal. Dokter sepesialis kulit sudah kita plot menanganinya,” kata Roziq.

dikupas dari : kompas.com
www.iterang.blogspot.com